- Diposting oleh : Joni Irawan
- pada tanggal : Juli 31, 2026
![]() |
| Salah satu booth Paviliun Indonesia dalam pameran Summer Fancy Food Show (SFFS) di New York, Amerika Serikat pada 28-30 Juni 2026. (ANTARA/HO-Kemendag) |
Selain potensi transaksi, kami melihat minat buyer terhadap tempe sangat tinggi seiring berkembangnya tren pangan nabati di Amerika Serikat
Jon Post (03) - Kementerian Perdagangan (Kemendag)
melalui Atase Perdagangan RI Washington D.C menyebut produk pangan olahan
Indonesia, termasuk tempe membukukan potensi transaksi sebesar 8,3 juta dolar
AS atau sekitar Rp150,7 miliar dalam pameran Summer Fancy Food Show (SFFS)
di New York, Amerika Serikat.
Atase Perdagangan (Atdag) RI Washington D.C. Ranitya
Kusumadewi mengatakan pameran tersebut telah membuka peluang bagi tempe menjadi
salah satu produk Indonesia yang berpotensi menembus pasar AS.
"Kami terus mengawal berbagai tindak lanjut dari
penjajakan bisnis (business matching) yang terjadi selama pameran agar potensi
transaksi dapat terealisasi menjadi kontrak ekspor. Selain potensi transaksi,
kami melihat minat buyer terhadap tempe sangat tinggi seiring
berkembangnya tren pangan nabati di Amerika Serikat," ujar Ranitya dalam
keterangan di Jakarta, Jumat.
Ranitya menyampaikan bahwa dari serangkaian pertemuan bisnis
dengan calon pembeli, tempe dinilai sebagai salah satu produk Indonesia yang
memiliki prospek paling besar untuk dikembangkan di pasar AS.
Hal ini didorong oleh meningkatnya tren konsumsi pangan
nabati (plant-based food), makanan fermentasi, dan gaya hidup sehat (healthy
lifestyle) yang meningkatkan permintaan terhadap produk berbahan nabati.
Kondisi tersebut membuka peluang bagi tempe untuk menjadi salah satu produk
unggulan (champion product) Indonesia di pasar AS.
"Tingginya minat buyer perlu diimbangi dengan
kesiapan pelaku usaha dalam menjaga kapasitas produksi, konsistensi pasokan,
pemenuhan standar mutu, serta penguatan kemasan dan strategi pemasaran. Dengan
demikian, peluang bisnis yang tercipta dapat berlanjut menjadi ekspor yang berkelanjutan,"
jelas Ranitya.
Dalam ajang ini, Paviliun Indonesia menampilkan enam pelaku
usaha dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Produk yang ditampilkan
meliputi kopi, kakao dan produk cokelat, makanan ringan, serta mi instan.
Turut ditampilkan makanan sehat seperti tempe, makanan
berbahan dasar kelapa, bumbu dan rempah, madu, gula aren, serta aneka pangan
olahan.
AS merupakan pasar ekspor pangan terbesar kedua bagi
Indonesia setelah China. Pada 2025, nilai ekspor produk pangan Indonesia ke AS
tercatat sebesar 5,97 miliar dolar AS, naik 14,06 persen dibandingkan tahun
sebelumnya yang sebesar 5,23 miliar dolar AS.
Nilai tersebut berkontribusi sekitar 10,1 persen terhadap
total ekspor pangan Indonesia ke pasar dunia yang mencapai 59,04 miliar dolar AS
pada 2025.
Dalam lima tahun terakhir, nilai ekspor pangan Indonesia ke
AS tercatat berfluktuasi, yakni sebesar 5,62 miliar dolar AS pada 2021, 6,03
miliar dolar AS (2022), 4,96 miliar dolar AS (2023), 5,23 miliar dolar AS
(2024), dan 5,97 miliar dolar AS (2025). Pada periode Januari-Mei 2026, total
perdagangan Indonesia dengan AS tercatat sebesar 18,44 miliar dolar AS.
Dari nilai tersebut, ekspor Indonesia mencapai 12,73 miliar
dolar AS, sedangkan impor sebesar 5,71 miliar dolar AS, sehingga Indonesia
membukukan surplus perdagangan sebesar 7,02 miliar dolar AS.
Sepanjang 2025, total perdagangan kedua negara mencapai 43,80
miliar dolar AS, dengan nilai ekspor Indonesia sebesar 30,96 miliar dolar AS
dan impor sebesar 12,85 miliar dolar AS. Pada tahun tersebut, Indonesia juga
mencatatkan surplus perdagangan sebesar 18,11 miliar dolar AS. sumber artikel antara
