- Diposting oleh : Joni Irawan
- pada tanggal : September 03, 2026

Illustration of ebola test tube (Photo: AI Generated)
Kasus Ebola di Kongo Tembus 6.000, 2.911 Meninggal
JonPost — Otoritas Kongo melaporkan jumlah kasus Ebola telah melampaui 6.000 kasus dan menyebabkan 2.911 orang meninggal dunia. Lebih dari 1.360 pasien dilaporkan telah pulih dari infeksi virus Ebola, dilansir dari ABC News, Rabu, 2 September 2026.
Dilansir dari rri, Penyebaran virus berlangsung dalam kondisi yang sangat sulit
dan diperburuk oleh berbagai persoalan di lapangan. Ketidakamanan menjadi salah
satu faktor yang memperburuk penyebaran wabah.
Perpindahan penduduk dan tingginya mobilitas masyarakat juga
turut mempercepat penyebaran virus. Aksi mogok tenaga kesehatan turut
menghambat upaya penanganan wabah.
Situasi paling mengkhawatirkan terjadi di lokasi-lokasi
pengungsian karena para pengungsi telah hidup dalam kondisi yang sangat rentan.
Pekan lalu, virus Ebola dilaporkan menyebar ke dua zona kesehatan baru,
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan wabah tersebut belum terkendali.
WHO memperingatkan wabah ini berpotensi melampaui wabah
Ebola di Afrika Barat pada 2014-2016. Wabah tersebut menjadi yang paling
mematikan dalam catatan sejarah dengan menewaskan lebih dari 11.000 orang.
Jenazah korban Ebola dapat sangat menular dan berpotensi
menyebabkan penyebaran virus lebih lanjut. Risiko tersebut meningkat ketika
masyarakat mempersiapkan jenazah untuk dimakamkan dan berkumpul dalam upacara
pemakaman.
Sebagai respons, otoritas Kongo mewajibkan pemakaman korban
yang diduga terinfeksi dikelola oleh pihak berwenang jika memungkinkan. Namun,
kebijakan tersebut terkadang mendapat penolakan dari keluarga dan teman korban.
Wabah saat ini disebabkan oleh virus Bundibugyo yang
merupakan jenis Ebola langka yang belum memiliki vaksin atau pengobatan yang
disetujui. Kongo mulai memberikan vaksin Ervebo kepada tenaga kesehatan dan
pekerja garis depan lainnya.
Vaksin tersebut sebelumnya efektif digunakan dalam wabah
Ebola yang disebabkan oleh jenis virus Zaire. Sementara itu, uji klinis sedang
dilakukan untuk mengembangkan vaksin khusus bagi virus Bundibugyo.
Para pejabat meyakini wabah yang baru dinyatakan pada
pertengahan Mei tersebut sebenarnya telah menyebar sejak Februari. Wabah telah
meluas dari tiga zona kesehatan menjadi hampir 60 zona.
Berbagai upaya pengendalian telah dilakukan, termasuk
pembatasan kegiatan masyarakat, penerapan jaga jarak, dan penutupan bandara.
Langkah tersebut turut mengganggu kehidupan masyarakat di enam provinsi,
terutama di Ituri yang juga dilanda kekerasan kelompok pemberontak.
Pemerintah Kongo telah memasang sejumlah peralatan kesehatan
dan sanitasi di beberapa lokasi. Namun, kelompok advokasi menilai masih
diperlukan upaya lebih besar untuk membangun kepercayaan masyarakat.