- Diposting oleh : Joni Irawan
- pada tanggal : September 04, 2026
Saat perwakilan media datang mengetuk pintu untuk menawarkan
kerja sama iklan, senjata andalan yang langsung dikeluarkan selalu sama: "Maaf,
sedang ada efisiensi anggaran."
Sebuah jawaban klise yang terdengar sangat bijaksana dan
berwibawa, seolah-olah mereka adalah pahlawan yang sedang mati-matian
menyelamatkan uang negara. Tapi mari kita buka topeng komedi ini dan melihat
kenyataan pahitnya.
Anda sudah menjabat dan bekerja di sana selama sekian tahun.
Tahun ini, anggaran yang dialokasikan untuk biaya pasang iklan di media hanya
Rp300 ribu. Angka yang bahkan tidak cukup untuk membeli kuota internet seluruh
staf kantor Anda selama sebulan! Ironisnya, angka sekecil itu pun masih Anda
jadikan alasan untuk berlindung di balik kata "efisiensi".
Lebih lucu dan memprihatinkan lagi, di tahun-tahun
sebelumnya—saat jargon efisiensi belum sekencang sekarang—Anda juga tidak
pernah mengeluarkan anggaran iklan sampai Rp300 ribu. Jangankan membayar penuh,
nilai yang sudah sekecil itu pun masih Anda tawar setengah mati seolah sedang
berbelanja sayur di pasar tradisional!
Ke mana perginya anggaran publikasi yang seharusnya ada?
Apakah habis untuk membiayai perjalanan dinas yang hasilnya abstrak, atau untuk
membeli fasilitas operasional yang sebenarnya belum mendesak?
Semoga Anda segera sadar dan mengerti dari tidur panjang Anda.
Dengan iklan dan publikasi media, kantor Anda, sekolah Anda, dan dinas Anda
bisa dikenal masyarakat, menunjukkan transparansi kerja, dan membangun citra
positif. Media bukan pengemis, melainkan mitra strategis. Berhentilah
bersembunyi di balik kata "efisiensi" jika yang sebenarnya terjadi
adalah ketiadaan kepedulian terhadap keterbukaan informasi.
