Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

DEN Proyeksikan Ekspor Hilirisasi Indonesia akan Tembus Rp902,5 Triliun

Rabu, 21 Oktober 2026 | Oktober 21, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-10-21T02:18:02Z
Sekretaris Eksekutif Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Septian Hario Seto (paling depan) saat menyampaikan keterangan pers di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa, 20 Oktober 2026 (Foto: RRI/Afriani Respati)

JonPost - Dewan Ekonomi Nasional (DEN) memproyeksikan ekspor produk hilirisasi Indonesia mencapai 50 miliar dolar AS atau setara Rp902,5 triliun hingga akhir 2026. Proyeksi tersebut meningkat hampir 45 persen dibandingkan nilai ekspor pada 2024 yang tercatat sebesar 34,5 miliar dolar AS (Rp622,7 triliun).


Sekretaris Eksekutif DEN Septian Hario Seto mengatakan peningkatan ekspor ditopang produk hilirisasi nikel, aluminium, serta komponen baterai litium. Proyeksi tersebut disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa, 20 Oktober 2026.


“Hitungan dari Dewan Ekonomi Nasional sampai dengan akhir tahun ini hilirisasi nikel, aluminium, dan komponen-komponen litium baterai itu nilainya akan mencapai sekitar 50 miliar dolar. Naik hampir sekitar 45 persen dibandingkan ekspor kita pada tahun 2024,” kata Seto.


Menurut DEN, peningkatan ekspor tersebut menjadi salah satu perkembangan positif selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo. Pertumbuhan ekspor hilirisasi juga dinilai berpotensi memperkuat penerimaan devisa Indonesia.


“Jadi ini merupakan prestasi yang sangat baik karena selama dua tahun periode pemerintahan beliau ekspor hilirisasi kita itu bisa meningkat sekitar 45 persen. Jadi ini juga akan menjadi sumber tambahan devisa yang sangat baik buat Indonesia,” ujarnya.


Seto menjelaskan Indonesia kini telah memproduksi komponen baterai litium, termasuk anoda dan katoda. Indonesia juga telah memiliki fasilitas pemurnian litium atau lithium refinery, meskipun tidak memiliki sumber daya litium sendiri.


“Artinya, Indonesia sudah bisa melakukan industrialisasi dari sumber daya alam yang kita tidak miliki di Indonesia,” ucapnya. Ia mengungkapkan perkembangan tersebut menunjukkan industrialisasi dapat dilakukan melalui pembangunan ekosistem industri yang lebih lengkap.


Ekosistem itu mencakup pengolahan bahan baku hingga produksi komponen yang dibutuhkan industri hilir. Pengembangan ekosistem tersebut, kata Seto, memungkinkan Indonesia menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi.


Selain nikel dan komponen baterai, DEN melihat potensi peningkatan ekspor produk aluminium Indonesia pada masa mendatang. Seto memperkirakan nilai ekspor aluminium dapat melampaui 10 miliar dolar AS (Rp180,5 triliun) seiring bertambahnya investasi dan pembangunan fasilitas peleburan baru.


“Ke depannya kita perkirakan untuk aluminium ini ekspornya bisa melebihi sekitar 10 miliar dolar. Seiring dengan penambahan investasi dari smelter-smelter aluminium yang baru di Indonesia,” ucapnya. Sumber Nasional: artikel dari rri.co.id

×
Berita Terbaru Update