Mengapa Pulau Sumbawa Belum Diguyur Hujan pada Oktober–Desember? Ini Penjelasan BMKG
MATARAM, Oktober 2026 – Masyarakat di lima kabupaten/kota di Pulau Sumbawa (Sumbawa, Sumbawa Barat, Dompu, Bima, dan Kota Bima) diimbau untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi perpanjangan musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa absennya intensitas hujan yang signifikan.
![]() |
| Ilustrasi |
di Pulau Sumbawa selama bulan Oktober, November, hingga awal Desember merupakan dampak langsung dari dinamika atmosfer global yang tidak biasa.
Kepala Stasiun Klimatologi NTB, Nuga Putrantijo, mengungkapkan terdapat tiga faktor utama yang menyebabkan langit Pulau Sumbawa masih kering dan belum menunjukkan tanda-tanda masuknya musim penghujan:
- Dampak El Niño Sangat Kuat
Indeks El Niño Southern Oscillation (ENSO) saat ini berada pada fase El Niño Sangat Kuat dengan anomali suhu permukaan laut di Samudera Pasifik bagian tengah mencapai angka +2,83 derajat Celsius. Fenomena ini menarik massa udara basah menjauh dari wilayah Indonesia, sehingga memperpanjang periode kekeringan. Kondisi ini diprediksi bertahan hingga awal tahun 2027. - Kombinasi IOD Positif
Selain El Niño, terjadi fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) Positif di Samudera Hindia. Kombinasi kedua fenomena ini menciptakan "penghalang" alami bagi pembentukan awan konvektif (awan hujan) di atas wilayah NTB, khususnya Pulau Sumbawa. - Suhu Muka Laut Perairan NTB Cenderung Dingin
Hingga saat ini, pasokan uap air lokal dari wilayah perairan sekitar NTB masih dalam kondisi normal hingga dingin, sehingga penguapan untuk menjadi awan hujan lokal sangat minim. Angin monsun barat yang membawa udara basah diprediksi baru akan masuk dan mendominasi wilayah ini secara normal pada akhir November hingga Desember.
Kapan Hujan Mulai Turun di Pulau Sumbawa?
BMKG memproyeksikan transisi cuaca atau awal musim hujan di Pulau Sumbawa baru akan merata pada pertengahan hingga akhir Desember. Karena awal musimnya mundur, durasi musim hujan periode ini akan menjadi lebih pendek (hanya berkisar 3 sampai 4 bulan). Namun, masyarakat wajib mewaspadai potensi curah hujan yang tinggi dan padat ketika hujan tersebut akhirnya turun.
Imbauan Tanggap Darurat Kekeringan
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB melaporkan bahwa Kabupaten Bima dan Kabupaten Sumbawa saat ini telah menetapkan status Tanggap Darurat Kekeringan. Pemprov NTB terus menyalurkan bantuan air bersih dan logistik ke titik-titik terdampak kekeringan lahan parah.
Masyarakat dan para petani di Pulau Sumbawa diimbau untuk menghemat penggunaan air bersih, mengantisipasi risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta menyesuaikan jadwal tanam sektor pertanian agar tidak mengalami gagal panen akibat mundurnya kalender hujan musim ini
