Hari Kesaktian Pancasila kali ini bertemakan ‘Pancasila
Pemersatu Bangsa Menuju Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur‘. (Foto: Istimewa)
Indonesia akan memperingati Hari Kesaktian Pancasila
pada 1 Oktober 2026. Tahun ini, peringatan tersebut mengusung tema “Pancasila
Pemersatu Bangsa Menuju Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur”.
BACA JUGA:
Sinergi Parlemen dan BULOG: Upaya DPR RI dan Bulog Sumbawa Jaga Stabilitas Pangan
Tema itu selaras dengan semangat peringatan Hari Ulang Tahun
ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Direktur Jenderal Perlindungan Kebudayaan
dan Tradisi Kementerian Kebudayaan RI, Endah Budi Heriani, menjelaskan makna
tema tersebut.
Menurut Endah, para pendiri bangsa merumuskan Pancasila
berdasarkan nilai kebudayaan dan adat istiadat Indonesia. Nilai-nilai itu
kemudian menjadi landasan untuk menyatukan bangsa.
BACA JUGA:
Ia menilai kata “pemersatu” penting karena Indonesia memiliki keragaman yang luas. Persatuan membantu masyarakat bekerja bersama mewujudkan kehidupan yang adil dan makmur.
“Kalau kita mengerjakan sesuatu sendiri, mewujudkan
masyarakat adil dan makmur pasti memerlukan waktu dan usaha luar biasa. Tetapi
jika kita bisa bersatu bekerja bersama untuk mewujudkan masyarakat adil dan
makmur, itu bukan sesuatu yang sulit,” ujar Endah saat berbincang dengan Pro3
RRI, Senin, 21 September 2026.
Ia mengatakan keberagaman Indonesia merupakan kekuatan untuk
mencapai tujuan bersama. Karena itu, masyarakat perlu menjaga persatuan dalam
kehidupan sehari-hari.
Peringatan Hari Kesaktian Pancasila tidak semestinya hanya
dimaknai sebagai peringatan sejarah. Momentum tersebut juga dapat digunakan untuk
mengingat pentingnya menerapkan nilai-nilai Pancasila.
Endah menyebut Pancasila dapat menjadi pedoman sekaligus
pandangan hidup masyarakat Indonesia. Penerapannya dapat dilakukan melalui
berbagai tindakan sederhana dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Salah satu penerapannya terlihat dalam kehidupan masyarakat
di ruang digital. Endah mengingatkan masyarakat agar berpikir kritis, menjaga
toleransi, dan mempertimbangkan dampak unggahan.
Penggunaan media sosial perlu memperhatikan nilai persatuan
agar perbedaan tidak berkembang menjadi perpecahan. Sikap toleran juga
diperlukan ketika masyarakat menghadapi perbedaan pandangan.
“Pancasila ada lima sila dan masing-masing mempunyai
nilainya masing-masing, saya rasa itu bisa kita jadikan pedoman kehidupan
sehari-hari. Contoh terkait dengan ruang digital, kita harus bisa menggunakan
nilai-nilai Pancasila dalam bermedia sosial,” ucap Endah.
“Kita harus bisa berpikir kritis kemudian menjaga toleransi,
kalau upload status kita harus berpikir panjang. Apakah ada yang terganggu atau
tidak, toleransi atau kita harus bisa menghindari perpecahan,” kata Endah.
Tantangan lainnya adalah menginternalisasi nilai-nilai
Pancasila, terutama kepada generasi muda. Endah mengatakan masyarakat perlu
memahami sejarah ketika Pancasila menghadapi berbagai cobaan.
Menurut Endah, Gerakan 30 September 1965 menjadi salah satu
contoh persoalan politik yang dihadapi Pancasila. Ia mengatakan Pancasila dan
Negara Republik Indonesia tetap bertahan sebagai dasar negara.
Endah menekankan peringatan 1 Oktober harus diwujudkan melalui penerapan nilai setiap sila. Nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial dapat diterapkan sehari-hari. JonPost
